Skip to main content

#ceritababazi #62 Arogansi atas kebijaksanaan diri

Buka dulu topengmu


Rasa kesal terkadang datang dengan begitu cepat karena hal ini bertepatan saat melewati situasi di luar kendali kita. Respon diri yang emosional terjadi sangat tidak kita rencanakan, seringkali hal ini menggoda untuk keluar dari diri ini.

Malam minggu merupakan malam yang baik untuk menikmati suasana malam bersama pasangan bahkan keluarga. Bahkan seringkali kita bisa melakukan kegiatan semalam suntuk demi mendapatkan kepuasan diri hingga pagi menjelang. Kenapa hal itu bisa terjadi? karena hari berikutnya merupakan hari libur buat para pekerja ataupun pelajar.

Akan tetapi hal ini tak bisa dilakukan begitu saja oleh orang tua yang memiliki anak balita. Mereka tidak hanya memikirkan kesehatan sang balita namun lebih menjaga anaknya untuk tetap dalam koridor yang semestinya. Anak itu dalam sehari harus tidur cukup untuk menjaga kesehatannya. 

Rasa capek dan kurang tidur akan menghambat anak untuk aktif, hal ini dikarenakan anak balita sedang dalam masa tumbuh kembang jadi kita sebagai orang tuanya lebih aware akan hal itu. Jangan karena egoisme kita sebagai orang tua mengorbankan anak ataupun cucu kita untuk hal yang menyenangkan kita semata. Itu merupaka hal yang tidak adil buat si anak, terlebih pada malam hari si anak belum juga tidur karena ulah kita sebagai orang tuanya. Orang tuanya memang membutuhkan hiburan setelah bekerja selama beberapa hari sebelumnya. Namun, apakah itu akan adil pada si anak kita?

Masih banyak waktu untuk mencari hiburan kok, bisa saja hari minggu pagi melakukan olahraga bersama si anak itu malah lebih bijaksana. Si anak senang dan orang tuapun ikut merasa refresh.

Sikap orang tua yang tidak mengindahkan hal tersebut saya bisa menyebut mereka itu kurang bijaksana. Masa anak bermain itu juga ada waktunya, waktu istirahat terbaik untuk anak yang aktif seharian tentu saja malam hari sampai pagi bisa lebih dari 10 jam untuk mengisi tenaganya lagi demi mendapatkan tenaga saat aktif pada siang hari.

Sedangkan siang haripun si anak juga ada masa istirahatnya kok, apalagi malam hari? Yah, semoga saja saya menjadi manusia yang lebih bijaksana dalam menjalani kehidupaku sebagai orang tua.

Anak senang orang tuapun akan merasakan hal serupa. Kelak hal ini akan terus menurun ke anak dan cucuku. menjadi orang tua itu merupakan sebuah tantangan yang tidak mudah, perlu kedewasaan dalam bertindak sehingga kita menjadi rule model yang baik untuk anak cucu kita, allahumma aamiin.

Terkadang kita menjadi orang tua memiliki gengsi yang berlebih, apalagi didepan teman ataupun saudara sekalipun. Sikap tidak mau dipandang dan dijadikan bahan pembicaraan orang lain itu menjadi sebuah alat yang ampuh untuk mengedepankan gengsi. 

Sikap seperti itu merupakan sikap egoisme terhadap orang lain, baik itu istri, anak bahkan cucu kita. Walaupun pada awalnya kita melakukan hal tersebut karena ketidak enakan kita terhadap orang yang kita anggap terhormat.

Saya beberapa kali melihat artikel ataupun video melalui youtube, orang barat itu malahan menjadi orang yang bagus untuk dijadikan contoh baik. Saya meyakini hal ini karena orang barat cenderung jujur terhadap apa yang dirasakannya. Selama kita jujur, perasaan bersalah akan menjadi nomor terakhir dan menjadikan kita lebih lega. Tidak ada namanya rasa yang tertinggal dalam hati, mungkin kesal ataupun tidak suka akan lepas jika kita menjadi pribadi jujur. kalau sakit ya bilang sakit, jangan karena tidak enak melukai perasaan orang lain kita menjadi menyimpan hal negatif.

Belajarlah untuk fokus terhadap diri sendiri dulu supaya kita menjadi manusia yang lepas dalam melakukan segala hal. Hal berikutnya yang saya liat dan baca adalah tidak usah menjadi manusia yang pandai dalam mengurusi urusan orang lain. Misalnya saja kita bergosip ria tentang keburukan orang lain. Kalau orang barat tidak melakukan hal tersebut karena mereka lebih fokus untuk diri sendiri. Bagaimana kita menjadi orang yang sukses di masa depan, jadi energi yang dkeluarkan itu tidak sia-sia hanya dengan mengurusi urusan orang lain tanpa manfaat bagi kita.

Kalau kaum milenial menyebutnya "Ghibah", apa itu artinya?

Dalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI), gibah/gi·bah/ Ar v membicarakan keburukan (keaiban) orang lain.

Nah, sudah tau itu merupakan kegiatan yang hanya melihat sesuatu dari orang lain namun dari sisi negatifnya. Coba anda pikirkan, apa manfaatnya bagi kita? Tidak ada manfaat yang terkandung dari hal tersebut. Mending kalau yang kita gibah itu benar adanya, jika hal itu tidak benar bagaimana? Jatuhnya fitnah.

Saya menulis ini bukan karena saya merupakan orang yang benar ataupun salah, ini merupakan proses saya menjadi orang yang lebih baik. Belajar menjadi baik itu harus kita lakukan selalu, toh belajar itu tidak ada batasannya, baik itu umur, tempat dan materinya selama itu merupakan hal yang positif dan bermanfaat bagi kita dan orang lain.

Belajarlah untuk jujur pada apa yang kita rasakan, jika itu kita lakukan terutama kepada diri sendiri dulu deh. Kalau kita sudah bisa jujur terhadap diri sendiri boleh kita melakukan tindakan kejujuran terhadap lingkungan kita. Awalnya memang sulit, akan tetapi disitulah tantangannya.

Oke selamat mencoba untuk menjadi manusia yang lebih baik, lebih bijaksana dengan sikap jujur, sikap positif. Mudah-mudahan apa yang kita upayakan berdampak pada diri sendiri dan keluarga kita kelak.

Comments

Popular posts from this blog

#ceritababazi #75

 Hari ini Minggu di bulan Desember 2022. Pada dasarnya hati ini selalu mengidamkan untuk hari libur seperti ini. Harapan selalu menggelayuti diri untuk menemui diri sebenarnya, namun apakah sikap malesku ini merupakan sebuah bentuk ketakutan ataukah hanya sebuah drama dari diri yg merasakan burn out? Perjalan hidup sudah menjelang paruh waktu, hal ini mengacu pada junjungan kita Rasulullah Saw. Walaupun sudah banyak pengalaman hidup dilalui selama hidup, namun masih saja ada hal yg kurasa perlu dibenahi. Entah apa itu, saya pun merasa kurang dan haus terus untuk mencari hal tersebut. Hingga kini diri ini tak kunjung menunjukkan diri sebagai mana hati ingin berkehendak. Mungkin saja hal inilah yang disebut hidup itu selalu tentang belajar.  Hal yang menarik hari ini adalah? Emm...apa ya? Oh, tadi pagi nak wedok bercerita aktifitas dirinya dari bangun tidur hingga cerita ini kudapati. Kira-kira ceritanya begini, bangun tidur sekitar jam setengah 6, kemudian diajaklah sama sang k...

Heboh Masker COVID-19/Corona Virus

Ilustrasi Corona virus by Me Heboh, borong masker, borong bahan makanan instan seperti mie instan, sarden, vitamin dan barang yang berguna untuk segala kondisi terkait dengan COVID-19 atau orang lebih kenal dengan virus corona. Virus corona yang pertama ditemukan di Wuhan, cina, pada desember 2019 telah menyebar ke seantero cina dan beberapa negara di dunia. Untuk update terbaru bisa buka link dibawah ini yang di update per 3 maret 2020. https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/03/091500465/update-virus-corona-di-seluruh-dunia-tembus-73-negara-48002-sembuh-3117 Untuk di indonesia sendiri mulai heboh setelah presiden jokowi memberikan pernyataan terkait warga negara indonesia terjangkit virus ini. 2 orang warga negara yang tertular dan dinyatakan positif terpapar virus corona diumumkan oleh pak jokowi per 2 maret 2020 kemaren. Hal inilah yang memicu kehebohan di indonesia hingga memborong masker dan bahan makanan sebagai tindakan siaga terkait virus COVID-19 ini. ...

#ceritababazi #72 Self love dengan keberagaman

Berbeda tapi melengkapi Gambar oleh Magnascan dari Pixabay    Yaps, hari ini sudah bisa terlewati dengan sedikit tertatih. Terkadang harus diakui, melewati waktu dalam sehari memang harus mengedepankan kompromi penuh dengan adanya tantangan dalam degup jantung. Seiring berjalannya waktu, terkadang iri melihat keseruan orang lain. Hari ini, dengan sedikit tertatih ku berhasil melewatinya. Satu pekerjaan rumah sudah terlihat hasilnya, tinggal eksekusi ke sang eksekutor. Masih ada waktu 2 hari untuk merevisi hasil dari pekerjaan yang ku tangani. Penuh tantangan, penuh problematika, mungkin saja tim owner juga merasakan hal serupa. Hadirku dalam situasi ini apakah menjadi pembeda? Berulang kali, ku merasakan hal yang membuat degup jantung ini terus mendebar kencang. Masalahnya masih saja sama, yaitu mengalahkan diri sendiri. Apakah ini ada hubungannya dengan sifat introvertku? Pertanyaan demi pertanyaan sering terlintas dari benak pikiranku sendiri, sering berasumsi sendiri. Secar...