Buka dulu topengmu


Rasa kesal terkadang datang dengan begitu cepat karena hal ini bertepatan saat melewati situasi di luar kendali kita. Respon diri yang emosional terjadi sangat tidak kita rencanakan, seringkali hal ini menggoda untuk keluar dari diri ini.

Malam minggu merupakan malam yang baik untuk menikmati suasana malam bersama pasangan bahkan keluarga. Bahkan seringkali kita bisa melakukan kegiatan semalam suntuk demi mendapatkan kepuasan diri hingga pagi menjelang. Kenapa hal itu bisa terjadi? karena hari berikutnya merupakan hari libur buat para pekerja ataupun pelajar.

Akan tetapi hal ini tak bisa dilakukan begitu saja oleh orang tua yang memiliki anak balita. Mereka tidak hanya memikirkan kesehatan sang balita namun lebih menjaga anaknya untuk tetap dalam koridor yang semestinya. Anak itu dalam sehari harus tidur cukup untuk menjaga kesehatannya. 

Rasa capek dan kurang tidur akan menghambat anak untuk aktif, hal ini dikarenakan anak balita sedang dalam masa tumbuh kembang jadi kita sebagai orang tuanya lebih aware akan hal itu. Jangan karena egoisme kita sebagai orang tua mengorbankan anak ataupun cucu kita untuk hal yang menyenangkan kita semata. Itu merupaka hal yang tidak adil buat si anak, terlebih pada malam hari si anak belum juga tidur karena ulah kita sebagai orang tuanya. Orang tuanya memang membutuhkan hiburan setelah bekerja selama beberapa hari sebelumnya. Namun, apakah itu akan adil pada si anak kita?

Masih banyak waktu untuk mencari hiburan kok, bisa saja hari minggu pagi melakukan olahraga bersama si anak itu malah lebih bijaksana. Si anak senang dan orang tuapun ikut merasa refresh.

Sikap orang tua yang tidak mengindahkan hal tersebut saya bisa menyebut mereka itu kurang bijaksana. Masa anak bermain itu juga ada waktunya, waktu istirahat terbaik untuk anak yang aktif seharian tentu saja malam hari sampai pagi bisa lebih dari 10 jam untuk mengisi tenaganya lagi demi mendapatkan tenaga saat aktif pada siang hari.

Sedangkan siang haripun si anak juga ada masa istirahatnya kok, apalagi malam hari? Yah, semoga saja saya menjadi manusia yang lebih bijaksana dalam menjalani kehidupaku sebagai orang tua.

Anak senang orang tuapun akan merasakan hal serupa. Kelak hal ini akan terus menurun ke anak dan cucuku. menjadi orang tua itu merupakan sebuah tantangan yang tidak mudah, perlu kedewasaan dalam bertindak sehingga kita menjadi rule model yang baik untuk anak cucu kita, allahumma aamiin.

Terkadang kita menjadi orang tua memiliki gengsi yang berlebih, apalagi didepan teman ataupun saudara sekalipun. Sikap tidak mau dipandang dan dijadikan bahan pembicaraan orang lain itu menjadi sebuah alat yang ampuh untuk mengedepankan gengsi. 

Sikap seperti itu merupakan sikap egoisme terhadap orang lain, baik itu istri, anak bahkan cucu kita. Walaupun pada awalnya kita melakukan hal tersebut karena ketidak enakan kita terhadap orang yang kita anggap terhormat.

Saya beberapa kali melihat artikel ataupun video melalui youtube, orang barat itu malahan menjadi orang yang bagus untuk dijadikan contoh baik. Saya meyakini hal ini karena orang barat cenderung jujur terhadap apa yang dirasakannya. Selama kita jujur, perasaan bersalah akan menjadi nomor terakhir dan menjadikan kita lebih lega. Tidak ada namanya rasa yang tertinggal dalam hati, mungkin kesal ataupun tidak suka akan lepas jika kita menjadi pribadi jujur. kalau sakit ya bilang sakit, jangan karena tidak enak melukai perasaan orang lain kita menjadi menyimpan hal negatif.

Belajarlah untuk fokus terhadap diri sendiri dulu supaya kita menjadi manusia yang lepas dalam melakukan segala hal. Hal berikutnya yang saya liat dan baca adalah tidak usah menjadi manusia yang pandai dalam mengurusi urusan orang lain. Misalnya saja kita bergosip ria tentang keburukan orang lain. Kalau orang barat tidak melakukan hal tersebut karena mereka lebih fokus untuk diri sendiri. Bagaimana kita menjadi orang yang sukses di masa depan, jadi energi yang dkeluarkan itu tidak sia-sia hanya dengan mengurusi urusan orang lain tanpa manfaat bagi kita.

Kalau kaum milenial menyebutnya "Ghibah", apa itu artinya?

Dalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI), gibah/gi·bah/ Ar v membicarakan keburukan (keaiban) orang lain.

Nah, sudah tau itu merupakan kegiatan yang hanya melihat sesuatu dari orang lain namun dari sisi negatifnya. Coba anda pikirkan, apa manfaatnya bagi kita? Tidak ada manfaat yang terkandung dari hal tersebut. Mending kalau yang kita gibah itu benar adanya, jika hal itu tidak benar bagaimana? Jatuhnya fitnah.

Saya menulis ini bukan karena saya merupakan orang yang benar ataupun salah, ini merupakan proses saya menjadi orang yang lebih baik. Belajar menjadi baik itu harus kita lakukan selalu, toh belajar itu tidak ada batasannya, baik itu umur, tempat dan materinya selama itu merupakan hal yang positif dan bermanfaat bagi kita dan orang lain.

Belajarlah untuk jujur pada apa yang kita rasakan, jika itu kita lakukan terutama kepada diri sendiri dulu deh. Kalau kita sudah bisa jujur terhadap diri sendiri boleh kita melakukan tindakan kejujuran terhadap lingkungan kita. Awalnya memang sulit, akan tetapi disitulah tantangannya.

Oke selamat mencoba untuk menjadi manusia yang lebih baik, lebih bijaksana dengan sikap jujur, sikap positif. Mudah-mudahan apa yang kita upayakan berdampak pada diri sendiri dan keluarga kita kelak.

Adaptasi terhadap lingkungan
Gambar oleh Nicholas Demetriades dari Pixabay

Problematika kehidupan berkeluarga, yups....pembahasan sedikit tebal kali ini akan ku bahas. Ketika kita menjalani kisah bersama keluarga baik itu istri, suami, anak  ataupun saudara dari masing-masing banyak sekali terjadi dan bahkan tak jarang membuat kita harus mengeluarkan energi berlebih untuk hal yang terjadi.

Tak jarang pada saat kita mengalami sebuah problematika tersebut harus mengernyitkan dahi makin berlipat lipat, benar tidak sih?

Setiap manusia dalam sebuah hubungan pastinya akan banyak terjadi perbedaan baik itu pandangan ataupun tujuan menentukan langkah. Namun, kita sebagai manusia diciptakan dalam keberagaman baik itu budaya maupun agama. Hal tersebut yang membuat setiap individu akan berbeda satu sama lain. Kelebihan yang dimiliki setiap manusia itu berbeda namun, ada kesamaan yaitu adaptif dalam berkompromi terhadap lingkungan baru.

Nah, kompromi merupakan sebuah jawaban tepat untuk menetralisir adanya perdebatan yang sering terjadi dalam sebuah hubungan baik itu pacaran, pertemanan hingga dalam berkeluarga. Misalnya saja begini dalam menikmati sebuah hidangan ada yang menggunakan sendok dan ada pula yang menggunakan sumpit atau bahkan menggunakan tangan kosong. Itulah perbedaan yang kita harus tau dan terima dalam lingkungan sosial masyarakat.

Terima kenyataan dan adaptiflah dengan situasi dan kondisi yang ada, kompromilah dengan diri kita sendiri untuk bersama berjalan beriringan berdampingan dengan orang lain. Walaupun itu awalnya akan terlihat kaku namun cobalah untuk melakukannya, selama kita bisa menikmati pasti lama kelamaan akan tercipta suasana baru yang nyaman untuk kedua belah pihak.

Kita hidup dalam kultur dunia yang mengadopsi adat ketimuran dimana ketidak enakan itu menjadi kental. Berbeda dengan adat kebarat-baratan dimana mereka sudah lepas dari kata tidak enak. Kejujuran merupakan sebuah budaya yang mereka bangun, jika budaya timur lebih menjaga perasaan dari orang lain dimana itu merupakan sebuah tuntutan adat itu sendiri. Berbeda dengan orang barat mereka lebih blak-blakan kalau tidak suka atau menyampaikan sesuatu mengenai apa yang dia lihat atau rasakan.

Memang berbeda karena beda kultur ya tentu saja berbeda juga aturan mainnya. Sama seperti percampuran budaya atau kultur tersebut dalam sebuah ikatan keluarga. Mereka bisa menjadi satu dalam ikatan keluarga karena mereka mau untuk berkompromi dan adaptif satu sama lain. Itulah pentingnya kompromi untuk adaptif menciptakan sebuah kultur baru atau melebur ke dalam sebuah kultur yang baru bersama orang lain.

Banyak macamnya perbedaan tersebut, misalnya saja dari makanan yang biasa kita makan sehari-hari. Kita kalau masuk dalam sebuah kultur baru tentu saja akan menghadapi sebuah problematika ini, kita biasa makan dengan masakan sedikit manis namun pada kultur yang baru kita datangi atau kita bergabung disitu lebih suka makanan asin, itu sebuah masalah bukan?

Pernah suatu ketika ku merantau dalam sebuah misi pekerjaan di luar daerah bahkan luar pulau. Awal berada disana memang merupakan sebuah kesulitan yang harus kuhadapi. Kendalanya banyak, dari bahasa yang digunakan sehari-hari tentu saja sudah berbeda, makanan juga berbeda itu merupakan sebuah problematika yang harus ku lalui yaitu dengan berdamai dengan diri sendiri untuk adaptif dengan lingkungan baru yang ku tinggali saat itu. 

Hal pertama yang kulakukan adalah menemukan orang yang tepat untuk menggali kultur disana sebagai riset untuk mencoba memahami apa yang sedang ku hadapi saat itu. Hal tersebut kulakukan untuk mengetahui sisi mana yang bisa ku terima dan tidak itu hal pertama yang kulakukan. Informasi sebanyak mungkin lebih baik untuk lebih kita mengerti budaya yang ada disitu. Selanjutnya kulakukan adalah adaptif terhadap lingkungan dari yang terkecil dulu, misalnya saja pada waktu itu lingkungan kerjaku.

Butuh waktu lumayan lama untuk mengikuti adat yang ada disitu, harus berjalan bertemu dengan banyak orang lokal disana demi mendapatkan informasi terkait budaya atau kultur disana. Makanan yang tersebar dipenjuru lingkungan serta mengkompromikan dengan lidahku yang semenjak kecil sudah terbiasa dengan masakan khas daerahku.

karena sudah banyak riset akhirnya pelan-pelan ku berkompromi dengan itu hingga akhirnya adaptif dengan lingkungan baruku.

Sama halnya dengan berkeluarga juga seperti itu, kita awal memang merasakan canggung terhadap lingkungan keluarga baru kita namun tapi pasti kita bisa berdaptasi dengan baik jika kita mau untuk melakukannya.

Problematika itu akan lemah dan tergerus oleh kompromi yang kita adaptif. Langkah selanjutnya setelah adaptif adalah untuk menyatukan visi dengan berkolaborasi mencapainya bersama-sama.








Gambar oleh Mote Oo Education dari Pixabay 


Komunikasi itu ternyata penting untuk sebuah hubungan suami istri, mana kala sebuah perjalanan cinta mereka sudah berjalan seiring waktu. Apalagi semakin lama sifat dari masing-masing baik suami ataupun istri akan nampaklah aslinya, dimana sifat tersebut acap kali tak pernah muncul dalam sebuah hubungan saat pacaran.

Diperlukan sebuah pendewasaan diri dari kedua belah pihak untuk menentukan diri menerima kekurangan dari masing-masing individu. 

Di jaman seperti sekarang ini tentu saja setiap individu akan mengenyam pendidikan yang lebih baik untuk menentukan karir setiap individu. Baik itu laki-laki ataupun perempuan, mereka saling berlomba untuk mewujudkan setiap impian mereka dengan segala jenis jurusan, pendidikan baik itu formal ataupun non formal. Nah dengan tingkat pendidikan yang semakin membaik tentu saja ego akan sudut pandang setiap manusia akan menjadi lebih tinggi. Untuk itulah diperlukan sebuah pendewasaan diri dari setiap individu terutama pasangan suami istri.

Terkadang manusia itu maunya pengen dimengerti dan melupakan bahwasannya mereka harusnya memberikan timbal balik berupa mengerti orang lain. Menurut kita apa yang kita lakukan pastilah yang terbaik untuk pasangan kita, namun hal itu terkadang bertolak belakang dengan apa keinginan pasangan kita. 

Berawal dari saling simpati menjadi saling suka dan jatuh cinta, begitulah sebuah proses ikatan suami istri hingga menutup mata kita dari perbedaan itu sendiri. Setelah menjadi sepasang hal itu akan muncul dengan otomatis tanpa kita harus memaksa. Hari dimana penerimaan seorang akan diuji dengan sikap pendewasaan manusia itu sendiri.

Untuk menyikapi hal tersebut sebuah komunikasi yang baik tentu saja diperlukan. Kegiatan keseharian yang penuh tekanan dari situasi ditempat kerja dan juga riuhnya jalan menambah tingkat emosi yang terkadang tak bisa kita bendung. Emosi boleh tapi harus dengan pikiran yang dingin untuk berkomunikasi dengan pasangan. Alih-alih untuk meredakan emosi terkadang terpancing pula karena tau sikap aslinya pasangannya.

Setelah menjalani kehidupan berdua bersama pasangan tentu hal ini akan memberikan sebuah kompromi untuk menerima pasangan dengan segala paket komplitnya. Baik itu kelebihan maupun kekurangan akan kita telan mentah-mentah sebagai sebuah nikmat hidup bersama dengan sang pasangan. Nilai dari sebuah komitmen adalah menerima dengan berkompromi dengan apa yang kita tidak suka serta berseberangan dari diri kita untuk menghadapi masa depan bersama.














 

"Gombale mukio.......hehhh...hayo kowe kui, malah tingak-tinguk", teluntuk ini menunjuk pada ujung hidungku sendiri.

Tangan kanan sedang mengepal dengan sempurna, sedangkan tangan kiri dengan telunjuk menempel pada hidung ku dengan penuh ekspresi menatap cermin. Oalah tampang pecicilan, apa sih yang kau mau sampai berbuat seperti itu. Hal tersebut bukan cerminan manusia pada layaknya kau hidup sepanjang kau menjalaninya.

Kau mau bukan hanya ku tunjuk hidung doang? 

Kau mau ku jambak juga rambut tipismu?

Kau bukan sekedar manusia biasa yang pada umumnya dulll...dulll...tingkahmu wis ngluwihi kodratmu sebagai manusia. Dasar payah.....payah!

Lihatlah dalam-dalam dari matamu itu, tatap penuh dengan hatimu bukan logikamu. Apa yang kau temukan dari dalam matamu?

Oh, aku tau apa yang ada dalam mataku, terlihat kejernihan diri penuh ketenangan memberikanku kehidupan yang pantas untuk kujalani sepanjang perjalananku selama ini.

Nah, itu dia yang kumaksudkan bukan seperti apa yang sudah kau lakukan belakangan ini. Memang kita sebagai manusia itu tak ada yang sempurna, memang manusia itu hanyalah mahluk ciptaan tuhan yang paling sempurna tapi bukan mahluk sesempurna yang kau perlihatkan dong!

Dasar kau manusia munafik, itu yang kau bicarakan adalah bagian dari dirimu sendiri.

Bukan....bukan itu maksudku, kita kan sedang berdiskusi antara aku dengan sisi diriku yang lain yaitu kamu.

Sudahlah kita sekarang berdamai dengan situasi seperti ini supaya kita bisa mendapatkan solusi terbaik dari yang baik, betul tidak?

Semalam aku sudah bercerita dengan segala macam perdebatan diri dengan penuh emosional sekali, alangkah baiknya redakan emosi dulu untuk memberikan kejernihan dalam melihat sesuatu masalah yang sedang berjalan menggerogoti diri. Amalan untuk membuat diri menjadi jernih adalah dengan curhat dengan gusti yang kuasa akan diri kita dan segala mahluk ciptaan.

Bagaimana membuat orang sekitar kita menjadi sadar akan kuasa sang ilahi, memberikan dengan segenap hati ini untuk berserah diri kepadanya atas masalah kita. Saat ini yang bisa kita lakukan hanyalah membuat orang tersebut memberikan kejujuran terhadap diri sendiri atas apa yang telah terjadi. Tanpa mau menerima diri menjadikan diri sendiri akan selalu mendapatkan ketidak pastian atas apa yang dia rasakan sebenarnya. Jadi intinya akupun akan melakukan kejujuran terhadap diri sendiri dan akan terus belajar menjadi orang yang selalu jujur atas apa yang ku rasakan dan kenyataan yang terjadi.

Walaupun itu sebuah kenyataan yang pahit sekalipun sebaiknya berdamai dengan diri untuk menerima hal tersebut demi keplongan diri akan situasi yang terjadi. Namun terkadang kejujuran itu hanyalah sebuah wacana dan sebuah bualan semata karena harus terkubur atas gengsi yang kita miliki.

Apakah diri ini bisa menerima dengan gampang apa yang menjadi kejujuran yang terjadi? 

Bisa saja kejujuran ini akan membuat kita dalam masalah dilingkungan kita sekarang dan masa yang akan datang. Perasaan ketakutan yang muncul ini tak bisa kita terima dengan sepenuh hati karena rasa ingin memperjuangkan hubungan dengan lingkungan sekitar lebih besar daripada ketentraman dalam diri ini.

Padahal sebuah kejujuran itu merupakan kunci terbesar dalam menghasilkan diri yang lebih baik dan lebih menenangkan jiwa diri itu sendiri.

Sudahlah diri semua mungkin butuh waktu untuk menuju ke sebuah kejujuran, kita sebaiknya bersama dalam satu visi ya?

Baiklah diri dan aku percaya akan masa depan penuh dengan sebuah kejujuran dan itu akan membuat kita menjadi lebih tenang dalam menjalani kehidupan yang lebih baik. Kalau itu semua sebuah kebaikan pastinya akan berjalan dengan semestinya harapan diri kita.

Pengen keluar dari lingkungan yang terus menerus membuat diri ini lelah memang menyebalkan betul tidak diri?

Terkadang kita harus menggunakan sebuah topeng untuk menutupi ekspresi kita yang tak sesuai dengan prinsip kejujuran itu sendiri. Lantas apa sih yang mendasari diri untuk tidak dalam menjunjung kejujuran di atas segalanya? Pertanyaan yang menarik untuk dipecahkan bersama nih diri!

Penerimaan lingkungan menjadi sebuah tembok besar untuk menjadikan diri ini menjadi manusia yang jujur, betul tidak diri?

diri :    Mungkin iya, itu merupakan masalah terbesar dariku untuk menjadi manusia yang plong dalam artian jujur terhadap apa yang dirasakan.

aku :    Bener sih diri, kita memang masih tabu dalam menyampaikan kebenaran rasa yang ada dalam diri, lantas langkah apa dong diri yang harus kita lakukan untuk mendapatkan kepercayaan diri menyampaikan kejujuran rasa yang kita miliki?

Itu sebuah perdebatan atau tepatnya diskusi diri dengan aku sendiri, perlahan mempertanyakan dan makin banyak pertanyaan yang muncul dalam diri yang keluar satu demi satu. Alangkah bijaknya kalau hal ini bisa diceritakan kepada orang yang lebih mengerti solusi atau lebih tepatnya orang dengan kompetensi dalam bidang ini.

diri :    Kita itu seorang dengan ketidaknyamanan diri untuk ekspresif dalam melakukan hal dilingkungan sosial pergaulan. Kita ini seorang dengan karakter tertutup untuk mengeksplor diri ke khalayak. Tantangan besar buat diri kita untuk melakukan hal luar zona nyaman.

aku :    Wah benar juga ya diri, ingin menunjukkan eksistensi diri saja sudah membutuhkan sebuah effort yang besar. hmm...pengen berdiskusi dengan orang lain kita juga terlalu pilih-pilih juga orangnya.

Terlepas dari kondisi kita sekarang, dengan cara menuliskan apa yang dirasa kita perlu sampaikan membuat kita menjadi lebih lega. Apakah ini sebuah solusi ataukah bukan ya diri?

diri :    Bisa jadi ini memang solusinya bro, coba kita rasakan apakah memang benar adanya diri ini menjadi tersampaikan dalam melihat sebuah keresahan dalam diri ini? Lebih menarik lagi jika hal tersebut bisa menjadikan lupa akan waktu jika kita melakukannya.

Larik demi larik menjadi bertambah seiring bertambah pula aktifitas yang kita lakukan dalam menulis. Sisi kita menjadi tertarik akan rangkaian kata yang keluar dalam diri untuk menjadi sebuah tulisan yang terpampang berbaris-baris.

Sebuah jawaban utama dalam perjalanan hidup kita adalah sebuah perpaduan diri dengan melakukan kegiatan menulis apapun itu. Perlu kita perbanyak dan kita kembangkan hingga apapun kita sebaiknya abadikan dalam sebuah karya tulisan.

Ya, betul sekali diri ini menjadi merasa ingin dan ingin lagi untuk menuliskan ungkapan dalam diri yang tak pernah bisa terucap ke dalam bentuk rangkaian kata demi kata hingga menjadikan itu sebuah cerita atau apalah namanya.

Sekian dulu ku tuliskan perasaan diri sebagai pengingat diri untuk berkembang.










Gambar oleh Lukas Baumert dari Pixabay 


Mulai minggu ini saya menyampaikan bahwasannya saya sekarang sudah kembali dari nol kembali. Walaupun rasa nol, tetapi wajah masih tetap serupa dalam rasa. 

Yups, sebuah keputusan yang sebenarnya merupakan sebuah paksaan dari sebuah kondisi dimana saya sendiripun tak bisa untuk menolaknya. Sebuah titah dari sang penguasapun sudah turun untuk memberikan saya interuksi sesuai dengan kondisi yang sedang terjadi.

Alih-alih bukan karena ketidak sukaan terhadap sosok saya ataupun tidak, memang hal ini musti dilakukan oleh sang penguasa untuk memberikan servis terbaik darinya untuk saya dan untuk kedua belah pihak tentunya.

Sekarang bukan menjadi sebuah masalah bagi saya untuk melakukan apa yang sudah dititahkan oleh sang penguasa. Hal ini karena saya sendiri menyadari bahwa hal ini pasti akan terjadi cepat atau lambat, sudah terprediksi sejak lama. Kegalauan sejak lama ini saya sudah sampaikan ke penguasa sebenarnya dengan berbagai persuasif, namun akhirnya waktu jua lah yang menjawab semuanya.

Perjalanan proses menuju pada titik ini membutuhkan efort yang tidak mudah, semua perlu perjuangan tanpa mengenal kata menyerah. Seringkali kata menyerah itu akan menjadi sebuah godaan yang pastinya mengendus relung ragu dalam diri. Ragu akan apa yang sudah diperjuangkan menjadi sebuah problematika yang menjadi penghalang dari diri untuk berproses.

Alangkah perjalanan ini menjadi sebuah hasil yang diharapkan ataukah menjadi sebuah titik balik untuk belajar menghadapi sebuah kenyataan pahit yang harus kuterima dengan lapang dada.

Perjalanan hidup tak serta merta berhenti saat kita gagal akan melakukan sesuatu, namun itu merupakan sebuah potensi diri akan menjajal mental kita seberapa kuat kita dalam menerima kenyataan pada akhirnya seperti itu. Terima dengan penuh kesadaran diri bahwa kita sebenarnya akan terus diuji demi perkembangan diri menjadi manusia yang lebih tangguh dan lebih matang dalam menjalani kehidupan.

Sembari menikmati masa sulit lebih bijak kalau kita berkaca untuk diri sendiri. Introspeksi diri untuk menyusun kembali rasa ingin meraih keberhasilan dalam kehidupan.

Terjebak dalam situasi yang seperti sekarang ku rasakan, yaitu perasaan dipenuhi dengan tekanan dalam dan dari luar diri yang semakin lama kok menjadikan ini seperti virus yang selalu menggerogotiku. Support sistem dalam lingkunganku juga mulai kabur menjadi abu tatkala sedang berjuang dengan segala potensi. Mau ku abaikan hal ini dan menyongsong hari demi hari dengan semangat mengejar segala yang ada dalam benak, tapi rasa itu acap kali datang.

Dalam kehidupan kita sebaiknya kembali pada pedoman hidup yaitu agama keyakinan kita, kalau dari diri mengindikasikan harus kembali pada iman dan islam yang selalu memberikan penerangan tiap kali terjebak dalam gelap gulita jalan didepan.


Arunika
Gambar oleh Tien Vu dari Pixabay 


Dalam hati ini berkata, "Ini sebuah ujian ataukah sebuah ilusi dari pikiranku?"
Sepagi hari ini pikiran selalu kemana-mana, arah dari pikiran ini ngalor ngidul tak karuan. Perdebatan dari dalam hati dan pikiran semakin mengerucut dalam menentukan arah dan tujuan dari kehidupan kedepan.

Perdebatan ini tak kunjung juga menemukan titik temu antara iya ataukah tidak, menentukan arah sebuah kapal kehidupan memang tak bisa ku putuskan dengan segera. Diperlukan pemikiran yang matang dari apa yang nanti akan dilakukan beserta resiko yang mungkin akan terjadi pada masa yang akan datang.

Mungkin saja pikiran ini terlalu sibuk untuk melakukan analisa pemikiran soal masa depan. Semrawut adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kehidupan pada saat ini kujalani. Romantisme kehidupan semakin membuat galau dalam berbagai hal terutama dalam melangkah ke mana kaki ini harus ku injakkan.

Ingin lepas dari segala kesemrawutan kehidupan yang kujalani sekarang ini, tapi tak tau harus bagaimana? ingin terbang kepakkan sayap bebas di angkasa tanpa melakukan kompromi dengan lingkungan sekitar yang selalu membelenggu diri untuk terbang melayang bebas.

Ingin ku bercerita dan berharap akan dapat sebuah solusi terbaik dari apa yang sedang ku alami sekarang, namun kepada siapakah harus kusampaikan cerita ini? Perjalanan semakin jauh haruskah aku harus memutar kembali sejauh perjalanan dari awal kembali? Jika itu berjalan dan bisa ku jalankan sesuai dengan hati nurani akan kupastikan ini ku ambil.

Pada dasarnya kita sebagai manusia tercipta dengan keistimewaan sendiri, tak ada yang sempurna namun kita berharap menjadi manusia yang baik dengan ketidaksempurnaan tersebut.

Lingkungan sekitar berpengaruh terhadap pilihan-pilihan serta perkembangan diri dalam memahami setiap perubahan diri.

Perubahan dalam hidup itu sering kita tanpa sadari berjalan begitu saja, apakah itu semua berjalan dengan sesuai dengan harapan tapi terkadang terpuruk. Kini apapun yang akan ku ambil dalam menentukan sebuah tujuan dalam jangka panjang akan membutuhkan sebuah keberanian yang pastinya konsistensi diperlukan. Alangkah mulianya diri jika hal ini terus terjaga hingga menemukan sebuah jawaban dari pertanyaan besar dalam diri untuk berkembang.

Sebuah aktualisasi diri perlu sebuah pengetahuan yang mumpuni sehingga belajar dan terus belajar pasti akan terus kulakukan.




Nalika awake dewe lagi diwenehi pacoban urip, awake dewe kudu kepiye supaya bisa tetep kuat lan semangat ngelakoni?

Nah, iki sik bakal dadi pembahasan neng tulisan sik arep tak tulis kanthi sak pangertenku bab pacoban urip kuwi mau. 

Sik mesti bakalan marakke penasaran dening kabeh sik mampir neng omah wewacanku iki. Sopo coba sik ora tau diwenehi pacoban urip, mesti kabeh menungso wis tau to ya? yo pora rek?

Ngerti pora rek, iki nembe sepisan aku nulis nganggo boso daerah yoiku boso jowo. Dadi nek rodo ora kepenak diwoco yo nyuwun pangapunten loh ya...

Kadang kolo awake dewe kui ono munggah mudune nglakoni urip sik saiki awake dewe lakoni, yo sepisan nek awake dewe lagi ono ning ngisor mesti pikirane awake dewe kui dadi mumet lan cuntel. Tapi kadang kolo yo ono neng duwur sik marake awake dewe gumedhe ndase, lali marang gusti sik gawe urip.

Jenenge wae urip kui kabeh menungso mesti ono wolak walik ing jaman, nah mangkane kui awak e dewe sik sadar lan tumprap eling marang opo sik diarani roso syukur marang gusti sing maringi awake dewe rejeki sehat bagas lan waras.

kocap sakwise kedadean pacoba urip mau pancen marai miris neng ati, tapi yo kudu percoyo nek jenenge gusti sik gawe urip ora bakal menehi umate sengsara terus. Kejobo manungsone dewe sik marai deweke nyengsarakke dewe.

Ananging wujud pacoban kui mau bedo siji lan liyane, tergantung karo kersane sing menehi pacoban urip. Pacoban urip iku werno-werno awujud iso kedadean diwenehi sugih bondho, ono sing diwenehi wong sik ora duwe, ono sik diwenehi lelaranen pokoke bedo siji lan sijine.

Awake dewe menungso isone mung sumeleh lan waspodo karo urip, senajan urip kui susah yo kudu dilakoni kanthi sumeleh tanpa ngasorake marang opo sik diparingi kalian gusti sing maha agung.

Lumrahe menungso kui yo ono sik senengane sambat marang uripe, ono juga engkang podo sumeleh kanthi ikhlas nrimo ing pandum opo sik dadi lelakone uripe.

Sambat kui kudune yo karo sik gawe urip, ojo sambat marang wong liyan sik durung mesti pener tembunge, iso-iso malah digeguyu opo malah awake dewe digeguyu tumraping uripe awake dewe sik mblangsak.

Kudune awake dewe menungso kui yo kudu sik legowo lan semangat kanggo wujudake opo sik dadi pengarep-arep neng uripe saiki kanggo sesuk emben.

Urip kui sik migunani tumpraping liyan supaya awake dewe nek lagi diparingi pacoban urip ono sik bantu. Hanek arep urip dewe yo susah, mendingan ora usah urip wae. Urip kui urup senajan urip susah tapi iso migunani marang liyane.

Donga lan dinunga ben awake dewe iso nglewati pacoban urip sik ono neng arep mbok menowo lagi susah tenan mesti ono sik nyemangati.

Lah kui mau kabeh yo ming urip mampir ngombe kabeh kok, opo ono jenenge bondho sik digowo mati? bojo ayu digowo mati lak yo ora to?

Wis urip sik sak madya wae ben uripe kepenak ora usah kokean polah ndak bopo kepadrah.





















Masa untuk memilih jalan diantara pilihan tentukan sekarang atau tidak sama sekali!

pilihannya lurus untuk menjajaki petuangan biasa atau berbelok dengan memilih jalan berliku penuh tantangan?

Memutuskan pilihan dalam hidup itu terkadang membuat kita seakan ditimpa sebuah bogem mentah ke atas kepala kita. Tentu saja pusing tujuh keliling akan sakitnya untuk menentukan diri harus menahannya atau harus melepaskan dengan teriakan sekencangnya.

Perdebatan antara diri dengan rasa begitu kental dan mencekam, banyak selisih paham diantara keduanya. Diri ingin secara pasti dan aman dalam menentukan sebuah pilihan tersebut. Rasa pun tak kalah dalam menganalisa guna merasakan sesuai intuisinya. Langkah demi langkah negosiasi tentu saja tak terhindarkan baik diri maupun rasa enggan untuk berdiam dalam menyampaikan pandangannya terkait pilihan tersebut.

Pengalaman dalam hidup juga menentukan untuk menentukan sebuah pilihan terbaik untuk diri maupun untuk rasa. Rasa takut akan resiko dalam mengambil suatu keputusan tak pelak memberikan kehati-hatian dalam proses penentuan pilihan.

Jika harus ku ambil pilihan pertama, emm apakah nantinya kejadian yang tak diinginkan akan kembali terjadi di proses perjalanannya? ataukah sanggup untuk melewatinya jika sedang dalam perjalanan dihadapkan pada kenyataan pahit akan kegagalan? Baik diri maupun rasa tak bisa sependapat berdasarkan analisa-analisa akan rumus kehidupan yang sudah dialami sebelumnya.

Sedangkan waktu akan terus mengintimidasi mereka untuk segera menentukan pilihan hidup. Diri dan rasa harus menemukan titik temu untuk memantapkan pilihan demi kebaikan mereka bersama. 

Walau ini merupakan sebuah titik penentuan diri dan rasa untuk mengikat dalam sebuah komitmen mereka bersama hingga mereka nantinya melaju dalam sebuah tim solid. Kekuatan diri dan rasa akan menjadi sebuah kedasyatan jika penentuan mereka seirama, seiring dan sejalan.

Hidup akan berjalan dalam satu kali waktu saja hingga kita menjadi debu nantinya. Jadi kesempatan ini tak akan terulang kembali, jika nantinya ada pilihan kembali itu akan berbeda lagi pilihan-pilihannya. Bisa jadi diri dan rasa harus kembali ke titik nol kembali dan waktu hidup sudah semakin mendekati bara api penghancur dari kehidupan itu sendiri.

Pro dan kontra hadir dalam diri dan rasa, mereka berpikir keras untuk menemukan sejati-sejatinya mereka. Peran serta keduanya tentu sangat diharapkan untuk menentukan sebuah pilihan tepat.

Pahit manis sudah diri dan rasa lalui dengan penuh keberanian menghadapi kehidupan itu sendiri. Rasa seringkali harus mengelus dada akan kenyataan bahwa intuisinya gagal untuk memberikan efek terbaik dari pilihan hidup dimasa lalu. Sedangkan diri terus berpikir akan kemungkinan hadirnya kenyataan pahit dalam angka-angka yang penuh dengan keruwetan rumus matematika.

pencarian diri dan rasa sudah berlangsung semenjak lahir ke dunia ini, hingga kini penemuan jati diri dan rasa harus terganjal oleh pilihan dalam hidup yang harus mereka hadapi dengan sebuah keruwetan kembali. Tuhan ada dalam setiap diri dan rasa itu sendiri untuk itu berpegang teguhlah pada keyakinan diri dalam sikap positif penuh optimisme sebelum melangkah.

Manusia terdiri dari diri dan rasa yang saling memberikan pemahaman akan kehidupan dan sebuah keagungan diatas terciptanya dunia ini. Hanya saja kehidupan terlihat layaknya timeline waktu yang memiliki batasan. terkadang kita lupa akan hadirnya sang maha pembuka hati dan pikiran.

Lingkungan sepertinya sudah menutup diri dan rasa untuk melihat tanda-tanda dari sang maha pembolak-balik hati manusia. tertutup dari hal yang semestinya mereka pahami, seperti akan kejujuran diri dan rasa dalam melihat dan melakukan tindakan dalam menyikapi sebuah kehidupan penuh dengan tantangan ini.

Rasa frustasi akan hal yang sedang terjadi ataupun yang sudah terjadi, sedangkan diri sibuk dengan matematikanya memperhitungkan kejadian-kejadian itu menghasilkan sebuah kehidupan terbaik untuk diri dan rasa dimasa depan dengan segala ilmu pengetahuan yang dia miliki selama menjalani kehidupan selama ini.

Langkah demi langkah sudah diri dan rasa lakukan untuk menentukan sebuah pilihan dari berbagai pilihan hidup. Namun keyakinan masih saja menyelimuti diri dan rasa.

Harus ku ambil jalan manakah kehidupan kedepan? biasa saja ataukah berbeda dari biasa?

Dukungan tentu saja akan semakin sedikit kalau kita mengambil jalan yang berbeda, namun kalau kita berhasil dalam mengambil keputusan menjadi berbeda, hasilnya akan menjadi sebuah pencapaian diri dan rasa yang luar biasa. Walaupun begitu resiko adalah jalan tak akan menjadi biasa lagi, banyak tantangan yang akan diri dan rasa hadapi.

emm...lantas akankah diri dan rasa mengambil jalan biasa saja seperti kebanyakan manusia?

Jika diri dan rasa mengambil jalan biasa, kehidupan akan berjalan seperti sekarang ini berjalan. Tak bisa terbebas dari keseragaman yang membuat persaingan menjadi lebih ketat karena jalan biasa merupakan pilihan mayoritas manusia dengan ketakutan-ketakutan yang abu-abu. Kenapa kok abu-abu? Karena kehidupan kedepan itu belum tentu seperti apa yang manusia pikirkan dan perkirakan.

Kehidupan masa depan itu merupakan sebuah rahasia dari sang maha pencipta dan maha berencana. Kita sebagai manusia jangan pernah takut untuk menjalani kehidupan, karena kita merupakan mahluk yang diberikan akal dan pikiran untuk menentukan jalan terbaik dari diri kita sendiri. Jika jalan yang kita ambil merupakan sebuah jalan yang positif tentu saja akan menjadi sebuah kehidupan yang positif pula.

Dengan ini diri dan rasa akan menentukan pilihan menjalani kehidupan yang berbeda. Memantapkan diri untuk menempuh jalan dan berproses menjadi manusia yang berbeda baik dengan dukungan maupun tidak. Diri dan rasa dengan berani akan menantang semua tantangan kedepan sampai batas mereka.

Yuk, beranikan diri untuk berdampingan bersama rasa menempuh jalan berbeda!

Belajar dan berdoa dengan segala bentuk keyakinan diri dan rasa untuk menyongsong kehidupan diri dan rasa yang lebih baik. Lebih kuat dan lebih berani dalam keoptimisan merupakan sebuah modal terbaik yang diri dan rasa miliki. Untuk itu tak akan pernah menyerah merupakan sebuah prinsip untuk bekerja keras bersama menahlukkan tantangan yang akan dihadapi pada proses perjalanan kehidupan kedepan.

Kurasa hari ini menjadi sebuah momen diri dan rasa selaras dalam menentukan pilihan hidup. Sekarang perlu dipikirkan strategi apa untuk mengambil jalan berbeda ini. Semoga saja dalam waktu dekat sudah menemukan strategi terbaik untuk mengambil kesempatan tersebut.

Ketulusan diri dan rasa untuk menyatukan tekad memilih berbeda merupakan dorongan optimis dari diri dan rasa itu sendiri demi keyakinan mereka mengarungi kehidupan penuh tantangan yang menghasilkan sebuah kebahagiaan diri dan rasa serta lingkungan sekitarnya.

Lupakan semua kegalauan diri dan rasa, semua sudah berlalu sekarang. Kita memulai untuk menghadapi kenyataan hidup seperti sekarang tanpa ragu sedikitpun. Nilai diri dan rasa semakin tinggi jika kita berani untuk melangkah dalam sikap berbeda. Biarkan saja minoritas namun memiliki kesempatan mayoritas karena sedikit manusia yang mengambil jalan berbeda.

Dengan mengucapkan bismillah diri dan rasa melangkah dengan mantab untuk memilih jalan berbeda. Semoga langkah ini diikuti oleh manusia lainnya sehingga kehidupan menjadi lebih berwarna dalam perbedaan namun seirama dalam menjalaninya.




















Hari ini sungguh membuatku semangat untuk terus melaju dalam sebuah perjalanan baru nan menyenangkan.

bagaimana tidak karena memulai suatu perjuangan sudah mulai menemukan ritme yang baik. Walaupun pada saat ini baru awal dari perjalanan panjang dalam sebuah pencapaian diri dalam hidup.

Semoga saja ini merupakan awal yang baik, ditengah kesemrawutan dalam kehidupan dunia. Pandemi membuat semua menjadi ke awal peradapan. Misteri dalam sebuah kurikulum peradapan dunia, awal dari perjuangan baru dalam dunia baru yang sedang dilanda pembaharuan. Entah ini merupakan ulah dari segelintir penguasa dunia ataukah memang sudah seharusnya.

Banyak orang berbondong-bondong mencoba sesuatu kegiatan baru untuk memberanikan diri menghadapi segala perubahan dunia seperti sekarang ini terjadi pada belahan dunia. Namun semua itu bukanlah suatu alasan untuk mencari tahu akan diri sendiri. Perjalanan memang ada 2 pilihan untuk ku lalui yaitu perjalanan biasa dan luar biasa.

Untuk penentuan jalan yang harus ku tempuh memang membutuhkan sebuah keberanian untuk jujur kepada diri sendiri. Kita merupakan mahluk yang unik dengan segala perbedaan satu dengan lainnya. Alangkah berbeda itu bukanlah sebuah kejahatan dalam kehidupan yang kita jalani. Hanya saja banyak orang berjalan dengan jalan yang biasa. Manusia dengan menempuh jalan luar biasa tentu saja akan menjadi individu anti sosial terkadang manusia lain menilai seperti itu.

Perjalanan melalui jalan biasa sudah banyak orang yang mengambilnya, jadi peluang untuk menjadi luar biasa terbuka lebar dengan adanya persaingan yang semakin sedikit. Permasalahannya jalan luar biasa tersebut menyajikan sensasi penuh perjuangan bagi yang sudah tahu akan jalan tersebut tidak sedikit yang menghindarinya karena banyaknya jalan berliku penuh tantangan tersebut.

Alhasil mereka yang memutuskan untuk kembali ke jalur jalan biasa karena lebih aman tanpa perjuangan yang berarti ditambah lagi banyak temannya. Sedangkan perjalanan yang harus dilalui oleh manusia dengan mengambil jalan luar biasa ya sudah jelas bukan resiko yang akan dihadapi? Mereka harus berjibaku dalam menahlukkan tantangan demi tantangan yang mereka temui di tengah perjalanan.

Resiko memang lebih menantang dan jalannya terjal tak seperti jalan biasa, namun apa yang bisa dicapai jika bisa melewati jalan luar biasa ini amatlah luar biasa pula seperti judul jalan yang luar biasa. Jika mampu melewati jalan luar biasa ini tentu saja kita akan menjadi manusia dengan tingkatan tentunya luar biasa juga dong. yah, intinya menjadi manusia dengan segala jati diri yang sempurna, mampu mengenal diri dengan baik. Kita hidup di dunia ini memiliki sebuah fungsi bagi kehidupan itu sendiri. Kita bisa mengetahui dan bermanfaat untuk kehidupan dunia ini kan bagus sekali. Tanpa merendahkan manusia yang menjalani jalan biasa menurut pribadi ku. Belum tentu jalan yang kita anggap biasa berlaku biasa pula bagi manusia lainnya, bisa saja jalan yang dia pilih merupakan jalan yang luar biasa pula ye kan?

Perjalan hidup itu merupakan sebuah proses yang harus kita lewati dengan penuh kegembiraan. Jangan sampai kita tak bisa menikmati perjalanan kita menggapai segala mimpi dalam hidup. Tak lupa pula kita harus menuliskan setiap proses yang kita jalani dan lalui ini dengan segala bentuk dramanya.

Lupakan segala hal negatif yang membuat kita putus asa untuk terus berjalan, jadikan itu menjadi pengalaman yang terbaik guna mengupayakan proses dalam kehidupan melalui jalan luar biasa kita. Setiap tantangan yang kita hadapi dalam menempuh perjalanan dalam jalan luar biasa pilihan kita ini kita juga harus melebarkan senyum termanis kita. Karena senyum merupakan sebuah energi positif untuk menambah daya gedor kita melewati tantangan tersebut.

Bulatkan tekad untuk terus melaju tanpa rasa takut menghadapi tantangan di perjalanan kita. Busungkan dada lebih penuh semangat lagi guna meraih mimpi kita setelah melewati jalan luar biasa tersebut. 

Terkadang jika kita melakukan sebuah blunder akan terasa sangat menyakitkan dan itu membuat kita menjadi lemah untuk kembali mengambil jalan biasa. Untuk itu bulatkan tekad serta penuhi lingkungan diri kita lebih positif sebagai pemotivator diri kita jikalau kita menghadapi kenyataan jatuh.

Saya hanya manusia biasa tak luput dari ketidak sempurnaan diri, tapi saya akan mengupayakan diri guna menyempurnakan setiap kekurangan demi menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Tak lupa pula akan ku kabarkan kepada dunia jika perjalanan luar biasa ini merupakan sebuah proses dari diri untuk lebih baik lagi. Hal inilah yang mendasarkan diri ini untuk menulis dalam blog ini.


Quote of the day :
Membuat sesuatu menjadi tersurat untuk pengingat akan proses kehidupan yang terlalui, ingatan manusia itu terbatas maka menulislah!!

Apapun proses yang ku lalui akan menjadikan diri ini lebih positif dalam menatap jalan luar biasa ini. Perjuangan melalui proses perjalanan diri ini tak akan pernah berhenti didiriku sendiri, semoga kelak generasi penerusku akan mengetahui proses perjalananku menempuh jalan luar biasa ini sebagai petunjuk bagaimana harus menyikapi proses kehidupan ini.

Memang perjalanan setiap individu manusia itu berbeda satu sama lain, tetapi poin yang bisa kita petik dari setiap perjalanan adalah makna yang terkandung dari proses tersebut. Kerja keras pantang menyerah untuk menggapai impian itu sendiri akan membuat generasi penerusku belajar.

Hidup memang tak mudah, hidup itu penuh lika-liku dari jatuh bangun hingga menemukan apa yang menjadi pertanyaan diri itu sendiri. Hargailah setiap proses yang kita lalui dengan menuliskan karena manusia itu memiliki ingatan terbatas.

Berdasarkan pakar pendidikan sekaligus ahli saraf dari Amerika Serikat, Catherine Young, mengatakan bahwa ingatan dihasilkan oleh reaksi beberapa sensor. Ketika Anda melakukan sesuatu, menelepon seseorang misalnya, sensor dari penglihatan, peraba dan lainnya bergabung dan menjadi energi listrik yang bergerak di neuron otak.

Energi listrik tersebut lalu akan menuju ke bagian ingatan jangka pendek dan bertahan di situ selama beberapa detik atau beberapa menit. Setelah itu, energi listrik berupa ingatan akan dipindahkan lagi ke area lain, yakni area ingatan jangka panjang. 

“Salah satunya adalah hippocampus, tempat di pusat emosi, ingatan serta sistem saraf lainnya,” tutur Young, dikutip dari Medical Daily.

Menurut young perasaan lupa itu terdiri dari 2 hal apa saja itu?

Pertama adalah koneksi antara neuron-neuron anda tidak begitu baik, hal ini mengakibatkan terganggunya konneksi penyimpanan ke penyimpanan otak. Jadi memori jangka pendek maupun jangka panjang anda tidak menyimpan secara maksimal. Misalkan saja anda meeting sudah berlalu selama seminggu, jika anda hanya mengingat tapi tidak menuliskannya tentu saja anda hanya mengingat satu atau 2 hal dalam beberapa hal.

Kedua, informasi yang terjadi tidak selayaknya untuk diingat alias anda menganggapnya tidak penting. Hal ini juga disampaikan oleh young 

“Otak juga perlu dilatih layaknya otot sehingga neuron-neuron tetap bisa bekerja dengan baik dan tidak tumpul,” ungkap Young

tulisan tersebut saya dapatkan dari https://topmetro.news/38422/daya-ingat-manusia-terbatas/

dari alasan tersebutlah penting jadinya kita menuliskan setiap proses kehidupan yang kita jalani sekarang hingga kita tutup usia.














Pertentangan
Gambar oleh Ryan McGuire dari Pixabay 


Pertentangan......

Yups, sebuah kata penuh dengan masalah, apakah memang seperti itukah makna dibalik kata tersebut?

Terkadang dalam kehidupan kita sehari-hari tak luput dengan pertentangan baik itu dari diri kita terhadap suatu ataupun sebaliknya mereka terhadap kita.

Perbedaan prinsip itu merupakan sebuah pertentangan yang merogoh energi kita jika kita perdebatkan betul tidak?

Alangkah beratnya pertentangan jika kita menuruti idealisme masing-masing, lantas langkah apa yang bisa membuat pertentangan ini menjadi harmoni dalam kelompok sosial?

Pertanyaan yang membuat kita mengernyitkan dahi bukan? 

Namun apakah ini sebuah masalah yang pelik untuk kita hadapi dalam keberagaman sosial yang ada? tentunya ini sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sebagai mahluk sosial dong tentunya. Kita sudah terbiasa dengan pertentangan dalam dunia kita setiap harinya, jadi alangkah baiknya kita mencoba untuk berpikir sejenak guna menemukan win-win solution.

Manusia itu pada dasarnya memiliki ego masing-masing, tetapi pada lingkungan sosial yang sudah ada namanya norma-norma atas dasar kesepakatan bersama untuk kompromi antar individu tentu saja ego tersebut bisa ditekan demi kebersamaan. itulah fungsi dari norma dalam masyarakat tercipta, yaitu fungsinya untuk menemukan jalan tengah untuk kemaslahatan bersama.

baik itu soal keamanan, keselarasan adat dan budaya yang tercipta akibat dari kompromi dan adaptasi dari masing-masing individu yang berada dalam lingkaran terdekatnya. Mungkin saja ada yang memiliki porsi lebih dalam win-win solution tersebut tetapi hal ini bisa ditolerir oleh yang lain karena persamaan kepentingan bersama. Dimana kepentingan bersama merupakan sebuah bentuk dari kompromi tersebut.

Pernah suatu ketika pertentangan itu terjadi dan sulit untuk dikompromikan, kenapa kok bisa begitu? masalah tentang pertentangan apa sampai bisa sulit untuk dikompromikan? Kalau sudah mengenai prinsip hidup tentu ini akan menjadi masalah yang pelik untuk dikompromikan. Contohnya saja, soal agama, kalau sudah beda agama tentu pandangannya bisa berbeda satu agama dengan agama lain, misalnya dari makanan yang boleh dan tidak boleh alias haram dan halal. Hal semacam itulah yang tidak bisa dikompromikan.

Sebagai orang yang memiliki karakteristik tentu saja prinsip akan sejalan dengan kehidupannya. Jika prinsip itu bertentangan maka akan terjadi sebuah perdebatan antara prinsip dengan perkara yang sedang dihadapinya. Nah semua akan tergantung dengan kompromi tersebut.

Pada dasarnya manusia itu tak bisa hidup sendiri, kita pegang teguh prinsip tapi kita tak bisa melakukan kehidupan sosial dengan baik. Apalah arti dari sebuah prinsip jika kehidupan sosial kita terganggu, bukan begitu?

Manusia itu harusnya memiliki prinsip karena pada saat kita menjadi seperti sekarang merupakan sebuah anugerah dengan segala keunikannya sendiri. Berbeda dengan orang lain bukan berarti kita tak bisa hidup secara berdampingan. Kita sebagai manusia sebaiknya menemukan diri kita sendiri dengan segala keunikannya. Untuk tampil berbeda merupakan sebuah hal yang wajar, ini bukan akhir dari segalanya kok.

Dalam melakoni kompromi kita tak harus saling menyerang dengan tindakan penuh emosi jiwa. Kita harus dengan benar-benar tenang menghadapi sebuah proses kompromi diri kita dengan situasi ataupun keadaan yang berlangsung. Tak lupa kita juga sebisa mungkin mengkoreksi diri kita sendiri akan hal yang sedang terjadi. Jangan hanya melihat dari sisi kita saja tetapi lihatlah dari sisi lain yang menjadi sudut pandang berbeda dari biasanya.

Semua yang telah terjadi pastilah mengajarkan kita untuk menghadapi segala hal yang menjadi pertentangan dalam diri dengan situasi ataupun keadaan saat ini. Buta akan pertentangan mengindikasikan kita tak bisa menerima pertentangan dalam diri kita, kalau hal itu terjadi bersiaplah untuk menghadapi lingkungan sosial.

Lingkungan yang baik itu merupaka hasil dari pemikiran dari analisa kita akan pertentangan-pertentangan yang ada. Biarkan diri kita untuk belajar menghargai pertentangan diri dengan lingkungan ataupun orang lain guna mendapatkan jawaban dari pertentangan tersebut. Secara otomatis pertentangan itu menjadi sebuah tantangan yang harus kita atasi guna mendapatkan kehidupan sosial yang kita inginkan bersama dalam berkehidupan sosial.

Pertentangan hanyalah sebuah tantangan oleh diri terhadap lingkungan sekitar, jadi kita harus bisa menenangkan diri untuk menghadapinya. Jangan biarkan kita larut dalam sebuah dilema akan pertentangan diri, karena hal itu akan menghambat kita untuk berkembang secara emosional.

Quote of the day :
Kalian berkata kepadaku, wahai sahabatku, bahwa selera tidak bisa diperdebatkan? Tapi justru seluruh kehidupan adalah pertentangan antar selera!
--Friedrich Nietzsche--










Touch your heart
Gambar oleh 坤 张 dari Pixabay 

"Tentang rasa"

Itu sebuah kata penuh arti dalam diriku, mau soal apapun akan berguna sebagai bentuk sebuah perasaan penuh tantangan.

Iya, begitulah diriku dalam menyikapi sebuah situasi dalam berkehidupan. Sisi hati tak akan pernah ku abaikan demi terciptanya keselarasan serta keseimbangan dari diri dan rasa.

Mungkin lain halnya dengan orang lain, mereka tak ubahnya diriku sisi yang lain. Hanya ingin mengedepankan bentuk atau rupa dari situasi yang mereka hadapi dalam hidup. Terkadang diri dan rasa saling bergejolak adu kekuatan demi mendapatkan sesuatu yang ada.

Manakala diri sudah unjuk gigi dengan keegoisannya, rasapun tak pernah mau menahan apa yang dia punya. Dari sisi diri mungkin lebih ke dalam logika berdasarkan analisa diri dalam kehidupan. Begitupun rasa akan mengedepankan sebuah kepuasan serta kebahagiaan walau terkadang harus menerjang norma-norma yang ada. Walaupun norma tersebut merupakan sebuah pemikiran dari hasil analisa logika diri yang berkompromi dengan lingkungan dalam kumpulan diri yang massive.

Menunjukkan kesatuan diri dan rasa terkadang membuat lingkungan menjadi musuh terbesar untuk kita. Pola pemikiran sesuai rasa memang akan membuat logika bergejolak dari hal yang bersifat tabu dan terkadang diluar nalar. Namun hal ini harus kita tunjukkan sebagai bentuk kejujuran dalam diri kita dan berbakti pada kuasa sang khalik.

Model diri dengan orang lain tentu saja memiliki perbedaan yang unik untuk kita gali, baik dari pola pikir maupun bentuk yang lain misalnya fisik. Kesempurnaan diri sebenarnya adalah mampu menunjukkan keunikan diri untuk lebih fulgar dihadapan kehidupan itu sendiri.

Romantisme dalam sebuah kehidupan itu tercipta karena manusia mampu untuk menjadi dirinya sendiri tanpa pengaruh dari orang lain. Jadi jangan sampai kita menjadi diri namun bukan diri kita sendiri. Kita mengalami banyak pengalaman diri semenjak kita dilahirkan, berbagai karakter diri sudah pula kita temui dan itulah yang membuat diri kita terbentuk menjadi manusia dengan segala keunikannya.

Idealis mungkin saja itu kata yang tepat untuk menggambarkan diri kita yang sebenarnya. Idealis tercipta karena itu datang dari diri kita secara pola pikir yang singkron dengan hati ataupun rasa yang kita miliki. Entah itu sifat, tanggap kita terhadap sesuatu baik itu lingkungan maupun orang lain. Terkadang kita tak bisa mengontrol arus yang datang dari lingkungan kita sendiri, lebih baik kita menjadi bagian dari arus tersebut. Apakah hal ini menjadikan kita bukan seorang dengan idealis kita?

Pertentangan dari diri dan rasa pastinya akan selalu ada dalam setiap kehidupan yang kita jalani. Lingkungan merupakan sebuah kompromi dari diri dan rasa terhadap pola pikir orang lain dan itu merupakan sebuah tindakan dari manusia itu sendiri karena manusia itu merupakan mahluk sosial yang tak bisa hidup sendiri. Jadi itulah mengapa diperlukan kompromi diri terhadap lingkungan sekitar.

Pada dasarnya manusia itu baik, walaupun kita dilahirkan dari orang yang memiliki sifat jahat dominan pun kita lahir akan menjadi manusia suci. Yang membuat kita menjadi dominan negatif adalah lingkungan sekitar. Namun jika kita menilik diri kita sendiri dengan penuh kejujuran pastinya kita tak akan menjadi manusia yang jahat.

Terkadang diri dan rasa sudah dibutakan oleh ketidak mampuan diri kita untuk mengerti apakah kita itu sudah melakukan hal yang baik ataupun tidak. Lagi-lagi kita diuji sampai rasa kita dibutakan oleh logika yang salah dalam menganalisa sesuatu.

Ilmu pengetahuan itu diperlukan untuk membuat logika kita menjadi lebih banyak filternya. Tuntutlah diri untuk selalu haus akan pengetahuan kehidupan yang penuh dengan teka-teki ini. Biarkan semua logika yang kita miliki itu difilter dengan penyeimbang diri yaitu rasa. Jangan biarkan tidak seimbang antara diri dan rasa dalam menjalankan diri berkehidupan.

Carilah kebahagiaan bukan kekuasaan ataupun hal lain yang hanya memanjakan logika diri saja. Namun rasa dengan segala kejujurannya akan membawa kita ke tahap kebahagiaan. 

Manusia itu seiring bertambahnya waktu akan semakin banyak menyerap berbagai ilmu pengetahuan dan itu membuat logika menjadi sibuk dan lebih sibuk untuk menganalisa. Karena banyaknya analisa yang dihasikan tentu saja pikiran kita semakin bekerja lebih keras. karena telalu banyak analisa untuk menjadi pertimbangan menjadikan rasa semakin tertekan dalam memberikan pertimbanganya bahkan lama kelamaan akan menjadikan rasa mati.

Jika rasa sudah mati kita akan menjadi manusia penuh kebingungan dalam menjalankan apakah itu merupakan sebuah kebenaran diri ataukah bukan. Manusia akan menjadi buas dalam menjalani kehidupannya. Ketenangan dalam menjadi diri yang sebenarnya akan menutup dan kebimbangan serta kegelisahan akan selalu meliputinya.

Keseimbangan diri dan rasa itu diperlukan guna mendapatkan ketenangan dalam menjalankan sebuah perjalanan dalam hidup kita. Mungkin kita menjadi manusia yang sangat berbeda dalam lingkungan kita, namun itu merupakan sebuah manivestasi diri yang berkejujuran akan sebuah kejujuran itu sendiri. Mayoritas belum tentu sebuah kebenaran, namun hati selalu tau mana itu kejujuran akan kebenaran jika kita benar dalam menerjemahkan untuk sesuatu tersebut.

Seringkali kita terjebak dalam sebuah pemikiran penuh kamuflase akan kebenaran. itu karena kita tak menjadi apa yang seharusnya kita sesungguhnya. Bukan diri kita untuk menjadi diri dan rasa yang seharusnya, namun kita menjadi kita karena pengaruh lingkungan yang seharusnya itu tidak kita lakukan. Toh kita bisa berpikir dan merasakan kejujuran dari diri kita. banyak yang tidak mendengarkan rasa dari dalam diri yang selalu berkata atas nama kejujuran.

Ambisi merupakan sebuah motivasi diri yang ambigu kalau menurut diri dan rasa, mengapa hal ini bisa begitu?

Ambisi itu bisa menjadi positif dan bisa juga menjadi negatif, ambisi yang positif adalah ambisi dalam artian menjunjung tinggi nilai kejujuran untuk kebenaran guna mencapai kebahagiaan untuk diri dan lingkungan luas. Bukan hanya untuk memenuhi tetapi harus merugikan orang lain bahkan lebih besar lagi merugikan lingkungan yang harusnya kita jaga.

Faktor penyebab diri dan rasa menjadi bukan diri kita sendiri ini lebih ke faktor dari dalam. Jika kita melihat dari faktor luar, tentu saja akan semakin komplek yang mempengaruhi diri untuk menjadikan kejujuran di atas segalanya.

Untuk lebih siap menghadapi segala ancaman dari luar diri kita, sebaiknya kita memperkuat diri dan rasa kita. Dengarkan rasa jangan hanya mengandalkan logika dengan analisa-analisanya yang ruwet itu.

Perdebatan diri ini mungkin saja tak sesuai dengan pola pemikiran orang lain sehingga diperlukan sebuah kedalaman dalam kita berpikir. Renungkan dalam diri bahwa kita itu tak bisa menjadi diri atas kehendak orang lain, tetapi jadilah diri yang terbentuk karena kita sendiri atas kehendak diri dan rasa kita. Walaupun pengaruh dari pola pikir orang lain itu bakalan menjadi pembeda satu dengan lainnya.

Segala kebaikan tidak menjadikan diri kita menjadi orang lain, namun menjadikan diri kita yang sebenarnya tumbuh menjadi lebih kuat dan lebih bijak dalam mengedepankan kebaikan itu sendiri.

Apa yang terjadi beberapa waktu ini, memang mengguncang kewarasan diri kita untuk tetap dalam jalan yang kita kehendaki. Pola kehidupan menjadi berubah karena kejadian luar biasa yang terjadi, dari pandemi sampai yang terkini adalah bencana alam. Keseharian yang sudah terbentuk dalam beberapa dekade ini menjadi drastis berubah, ini apakah sebuah bentuk dari ambisi segelintir manusia untuk menjadikan diri mereka lebih dalam hal bersosial ataukah hanya sebuah perubahan dari semesta?

Kita tak akan pernah tau apakah ini memang sudah ada dalam pola kehidupan dunia, tapi yang pasti kita harus menjadi diri dan rasa yang kita inginkan dan ambil tindakan dalam pola pikir yang kita yakini. Keselarasan diri dan rasa juga ditunjang dari manusia itu sendiri dalam belajar dan terus belajar untuk mengembangkan pola pikir diri guna menggunakan analisa logika yang lebih baik dengan keseimbangan rasa sebagai pengendali diri.

Jika logika dan hati nurani bertentangan sebaiknya kembali belajar untuk menyelaraskan, mungkin saja ada ketidak seimbangan antara keduanya yang belum kita temukan analisanya. Untuk itu pergunakan pemikiran kita dalam bentuk analisa diri pengetahuan baru yang lebih unggul. Ketidakpastian itu akan selalu ada jika kita hanya berpikir dari segi keruwetannya. Maka sederhanakanlah hal itu dengan segala ilmu pengetahuan yang kita bisa pelajari setiap waktu. pendidikan tak hanya terpaku hanya lewat akademik, tetapi ilmu berkehidupan itu sangat luas dan banyak cara dan tempat untuk kita menjadi lebih berilmu.

Mulailah dengan jujur terhadap diri, fokuslah pada diri anda sebelum anda berani menantang keresahan lingkungan yang bertentangan dengan diri dan rasa.

Biarkan diri ini belajar untuk lebih berkata jujur dan beranalisa atas kehendak diri itu sendiri bukan orang lain. Mungkin sekarang masa kita untuk lebih fokus pada diri sebelum era baru dimulai kembali.

Kesedihan serta kekecewaan diri terhadap situasi memang membuat kita menjadi frustasi akan apa yang akan kita lakukan sekarang. Tetapi percayalah bahwa kita dibekali diri logika dan rasa sejak kita dilahirkan maka pergunakanlah itu lebih maksimal. Jangan berhenti untuk menyerah, tetapi berhentilah untuk mengintrospeksi diri dan mengenali diri lebih baik lagi.

Masa depan bukan untuk kita khawatirkan tetapi kita pikirkan langkah dan strategi kita lebih kuat dalam menjalani masa yang belum kita alami tersebut.

Tentang rasa

Jauh dari logika tapi dekat dengan diri

Akan ada waktu untuk berunjuk gigi

Seimbangkan logika dan rasa dalam diri

Untuk kita lebih bijak dalam menyadari diri